Apa Kabarmu di Sana…
Siang itu aku memasuki ruang hampa…yang kau tinggalkan,
kujumpai seulas senyummu di sudut ruang,
dan tatap sendumu di balik pintu,
Aku hanya bisa menghela napas sebab jadi mengerti…
Inilah yang dinamakan rindu…bukan rindu asmara
Ini lebih dari itu…
ini adalah ketulusan yang tumbuh bersama deretan hari bersama
Kau tahu,
aku sangat terkejut saat tahu betapa sederhananya,
hidup yang kau lalui…selembar kasur tipis untuk meletakan tubuh tipismu,
tanganmu yang harus menempa besi panas itu di saat mudamu,
sebuah kotak kecil tempat kau meletakan pakaianmu…
Itu sudah cukup katamu…
Di balik keprihatinanmu itu…
Kau malah menyisihkan untukku…
Kau begitu serius membuktikan janjimu….
dan aku sangat menghargainya…
pemberianmu itu kusimpan utuh…
bersama mimpi-mimpi kita untuk maju bersama…
————————————————–berpisah
Aku tau kau gusar dan malu,
kala kusanggah ucapan-ucapanmu itu….
Kau tau aku sempat merindukanmu,
seperti tanah gersang merindukan rintik hujan,
seperti hujan merindukan sinar mentari…
pada saat kemarau kumerinduimu…diantara derai hujanpun aku tetap merindukanmu…
pada pagiku tanpamu….pada siang tanpa genggam eratmu….
pada malam tanpa celoteh dan tatap dalammu….
————————– pejuang
Kau patah dan akupun luruh
perlu kekuatan besar untuk berdiri setelah jatuh,
Pejuang selalu bangkit kembali…demikian juga dengan aku,
Selalu ada lelaki di sekitarku…tapi kaulah lelaki yang paling tulus…
—————————-
—————————-
Kemudian tawaran penerbitan demi penerbitan datang menghampiriku…
Aku teringat asa-asa kita..
menulis bersama, bekerja bersama…
Aku jadi mengkhawatirkanmu…
Aku mendoakan dengan tulus
agar kau segera mencecap kesempatan
seperti yang kurasakan…









Recent Comments